Selamat Datang di Website BLH Kabupaten Probolinggo, kami masih dalam masa uji coba. Untuk informasi/masukan hubungi 0335-433860 atau email : blh.probolinggokab@gmail.com

Jumat, 01 Juli 2011

Pembuatan Kompos

Kompos merupakan hasil perombakan bahan organik oleh mikrobia dengan hasil akhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang rendah. Bahan yang ideal untuk dikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos yang dihasilkan memiliki nisbah C/N < 20. Bahan organik yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggi di atas 30 akan terombak dalam waktu yang lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalu rendah akan terjadi kehilangan N karena menguap selama proses perombakan berlangsung. Kompos yang dihasilkan dengan fermentasi menggunakan teknologi mikrobia efektif dikenal dengan nama bokashi. Dengan cara ini proses pembuatan kompos dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan cara konvensional.
Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobia agar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Yang dimaksud mikrobia disini bakteri, fungi dan jasad renik lainnya. Bahan organik disini merupakan bahan untuk baku kompos ialah jerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/ ternak dan sebagainya. Cara pembuatan kompos bermacam-macam tergantung: keadaan tempat pembuatan, buaday orang, mutu yang diinginkan, jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersedia dan selera si pembuat.
Yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan ialah:
a)  Kelembaban timbunan bahan kompos. Kegiatan dan kehidu­pan mikrobia sangat dipengaruhi oleh kelembaban  yang cukup, tidak terlalu kering maupun basah atau tergenang.
b)  Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan ke­lengasan. Apabila terlalu anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan bahan yang dikompos­kan umumnya menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3. 
c)  Temperatur harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 60 0C). Selama pengomposan selalu timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan temparaturnya naik; bahkan sering temperatur mencampai 60 0C. Pada temperatur tersebut mikrobia mati atau sedikit sekali yang hidup. Untuk menurun­kan temperatur umumnya dilakukan pembalikan timbunan bakal kompos.
d)  Suasana. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asam-asam organik, sehingga menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan mempunyai dampak netralisasi kemasaman.
e)  Netralisasi kemasaman sering dilakukan dengan menambah bahan pengapuran misalnya kapur, dolomit atau abu. Pemberian abu tidak hanya menetralisasi tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg dalam kompos yang dibuat.
f)   Kadang-kadang untuk mempercepat dan meningkatkan kuali­tas kompos, timbunan diberi pupuk yang mengandung hara terutama P. Perkembangan mikrobia yang cepat memerlukan hara lain termasuk P. Sebetulnya P disediakan untuk mikrobia sehingga perkembangannya dan kegiatannya menjadi lebih cepat. Pemberian hara ini juga meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan karena kadar P dalam kompos lebih tinggi dari biasa, karena residu P sukar tercuci dan tidak menguap.

Cara praktis pembuatan bokashi jerami - pupuk kandang
Pembuatan kompos sebaiknya dikerjakan: (1). dalam bangunan yang memiliki lantai rata, keras dan bebas dari genangan air, serta adanya atap yang melindungi dari terik matahari dan hujan, (2). dekat dengan sumber bahan organik: jerami, pupuk kandang, sampah, sekam, dedak dll., (3). dekat dengan sumber air, dan (4). transportasi mudah. Alat yang diperlukan: Garuk atau cangkul, Pemotong rumput atau sabit, Gembor, Ember, Cetakan kayu dan  Karung atau plastik.
Bahan
1. Jerami dicacah halus 3- 5 cm : 500 kg
2. Pupuk kandang                      : 500 kg
3. EM-4                                     : 500 mL
4. Gula pasir                             : 250 g

Cara pembuatan:
1.   Larutan EM-4. Masukkan 20 mL EM-4 + 10 g gula pasir + air bersih 1.000 mL ke dalam jerigen tertutup rapat, digojok merata dan difermentasikan selama 24 jam.
2.  Jerami + pupuk kandang dicampur merata di atas lantai.
3.  Tambahkan larutan EM-4 ke kemudian diaduk merata sehingga kadar lengas dalam adukan tersebut sekitar 30%. Ambil segenggam bakal kompos tersebut, jika diperas air mulai menetes.
4.   Buat gundukan setinggi 60 cm, tutupi dengan karung goni.
5.   Setiap 2 hari gundukan tersebut diperiksa, jika temperatur > 50 oC gundukan harus dibongkar dan dianginkan. Setelah dingin buat gundukan kembali, tutup dengan karung goni. Jika terlalu kering tambahkan larutan EM-4.
6.   Setelah 3 minggu gundukan dibongkar. Kompos diayak dengan saringan kasa 2 cm. Bahan yang tidak lolos saring dikomposkan kembali.

Penggunaan bokashi
Takaran penggunaan secara umum 2 kg/m2. Begitu sampai di lahan kompos harus segera dicampur merata dengan tanah. Kompos yang tidak segera digunakan dapat disimpan. Kompos terlebih dahulu dikering anginkan, kemudian dimasukkan dalam karung plastik yang kedap air dan berwarna gelap. Karung tersebut disimpan ditempat yang kering, terlindung dari hujan dan cahaya matahari langsung.

Kegiatan Ecopesantren Kab. Probolinggo ke Lamongan

Menindaklanjuti hasil pembinaan ecopesantren pada tanggal 28 Juni 2011, maka pada hari Kamis tanggal 30 Juni 2011 seluruh peserta pembinaan ecopesantren Kabupaten Probolinggo diajak oleh BLH Kabupaten Probolinggo ke Sekolah Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan, yaitu sebuah Pondok Pesantren yang berada di Kecamatan Turi, dimana Pondok tersebut sudah menerapkan suatu kawasan pondok yang berbasis lingkungan. Jumlah peserta dari Kabupaten Probolinggo sejumlah 40 orang dan didampingi oleh pembina dari BLH Kabupaten Probolinggo. Ketika sampai di SPMAA rombongan disambut langsung oleh Gus Hafidz (Pimpinan Pondok) beserta jajarannya. Dalam kesempatan tersebut rombongan diajak keliling pondok, mulai dari sumur resapan Biopori, Gas metane dari kotoran manusia, bank tletong sampai dengan manajemen Pondok yang dilakukan disana. Kemudian dilanjutkan dengan sholat Dzuhur berjama'ah dan makan siang. Selanjutnya diajak ke makam pendiri SPMAA (H. M. Mochtar) dan sebagai puncak acara dilakukan secara formal di aula SPMAA, yaitu presentasi Gus Hafidz dan sambutan wakil BLH Kabupaten Probolinggo, Ir. Suprahono MMA. Para peserta merasakan manfaat yang luar biasa dari kunjungan ini dan akan menerapkan hasilnya nanti ketika sampai di Pondok Pesantren masing-masing

Pembinaan Ecopesantren melalui workshop Pengelolaan Sampah

Bertempat di Gedung Islamic Center Kraksaan, tepatnya hari Selasa 28 Juni 2011 diselenggarakan Pembinaan Pengelola Lingkungan Hidup (Ecopesantren) dengan bentuk workshop Pengelolaan Sampah. Hadir dalam workshop sebanyak 5 Pondok Pesantren yang diwakili 40 orang, terdiri dari Pengasuh, Santriwan/Santriwati. Workshop ini dibuka langsung oleh Kepala BLH Kabupaten Probolinggo Hj. Ambarwati, S.Sos, M.Si. Dalam acara tersebut disampaikan tentang Kebijakan Pengelolaan Sampah oleh Kabid Tata Laksana Kelembagaan Isdarwanto, S.Sos lalu dilanjutkan oleh Pemanfaatan Gas Metane oleh Staf BLH Yusdi, ST serta Program Ecopesantren oleh Kasubbid Kelembagaan R. Sugeng Rahardjo. Disamping itu diisi juga praktek kerajinan dari bahan limbah oleh Pokmas Melati Kraksaan. Peserta tampak antusias sekali, terutama praktek kerajinan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya berlangsung di Kabupaten Probolinggo saja, namun seluruh peserta akan diajak ke Pondok SPMAA Lamongan pada tanggal 30 Juni 2011.